CARA MERUBAH NASIB: MUSIBAH DAN KEMUDHARATAN
MUSIBAH DAN KEMUDHARATAN
Hukum sebab dan akibat berlaku pasti di bawah pengawasan
Allah SWT disebut takdir. Kemudharatan maupun musibah adalah bagian dari
takdir, dan biasanya datang kepada setiap manusia sebagai hukuman atau
peringatan Allah Swt. Musibah dengan kemudharatan adalah berbeda.
Musibah terjadi di karenakan adanya unsur sebab akibat yang sebenarnya
bisa di hindari kalau orang itu mau.Walhasil musibah itu terjadi
disebabkan oleh perbuatannya.
Allah Swt berfirman dalam ( Q.S.53 An-Najm : 39 - 40 )
wa-an laysa lil-insaani illaa maa sa'aa
artinya : bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang di usahakannya
wa anna sa'yahu saufa yuraa :40
artinya : dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan ( kepadanya )
Dalam Ayat lain Allah SWT juga berfirman ( Q.S 20.Thaahaa:78 )
fa-atba'ahum fir'aunu bijunuudihi faghasyiyahum mina alyammi maa ghasyiyahum.
artinya : Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.
Ayat tersebut menjelaskan bawha apa yang diperoleh manusia
adalah hasil perbuatannya. seperti yang di alami Fir'aun adalah akibat
perbuatannya. ia di tenggelamkan Allah SWT kedasar laut karena sombong
dan sangat duhaka, serta berlaku semena mena terhadap rakyatnya. bahkan
ia mengaku sebagai Tuhan. Kalau saja Fir'aun mengikuti seruan nabi musa
yang mengajaknya untuk beriman kepada Allah SWT,kemudian dia bertaubat
pasti ia tidak akan di tenggelamkan Allah SWT. Artinya musibah itu tidak
akan terjadi
Berbeda dengan kemudharatan, Tidak terdapat unsur sebab akibat
yang terkadang sulit di terima akal sehat.Untuk lebih jelasnya seperti
apa kemudharatan perhatikan
Firman Allah SWT ( Q.S.21.Al-Anbiyaa:89 )
Firman Allah SWT ( Q.S.21.Al-Anbiyaa:89 )
…rabbi laa tadzarnii fardan wa-anta khayru alwaaritsiina
artinya : Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri ( tidak mempunyai keturunan ) dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.
Dalam Ayat lain Allah SWT berfirman ( Q.S.21.Al-Anbiyaa:83 ) :
…Anni massaniyadh dhurru wa anta arhamur raahimiin
Artinya : dan ( ingatlah berita ) Ayub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Sesungguhnya Aku disentuh kemudharatan ( penyakit ),Sedang engkaulah Tuhan yang lebih pengasih dan segala penyayang.
Dan
ayat di atas adalah kisah nabi yaitu zakaria dan ayub yang menyeru
kepada Allah Swt mengadukan nasibnya. Nabi Zakaria As memohon di beri
keturunan dan Nabi Ayub As menyeru Allah Swt karena penyakitnya yang
sangat parah. Apa yang dialami oleh Nabi Zakaria dan Ayub bukanlah
musibah, tapi kemudharatan, karena tidak ada unsur sebab akibat. Secara
akal sehat, Pastinya tidak ada yang sulit bagi para Nabi. Sungguh itu
adalah benar-benar ujian Allah kepada mereka.
Firman Allah SWT ( Q.S.29. Al-Ankabut:2 )
a hasiban nasu an yutrakuu an yaquuluu aamannaa wahum laa yuftanuun
artinya : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi.
Ayat di atas menegaskan bahwa manusia, siapapun dia selama
hidupnya pasti akan di uji Allah Swt.tidak terkecuali nabi dan rasul.
Zakaria dan Ayub adalah hamba-hamba terpilih. mereka Nabi dan pasti
beriman,mereka benar-benar di uji Tuhannya. Dan itu Adalah sebagian
pelajaran buat manusia yang punya hati dan akal di kemudian hari.
Agama Islam telah memberi tuntunan kepada pemeluknya, tatkala
musibah atau kemudharatan itu datang.Hendaklah kembali kepada agama dan
mencari tuhannya. Karena tidak akan ada satu manusiapun di muka bumi
yang dapat menyelamatkan atau menolong manusia dari bencana, kecuali
Allah SwtTahulah kita bahwa musibah dan kemudharatan itu datang dari Allah Swt. Oleh sebab itu tidak akan ada manfaatnya berkeluh kesah di kala ada musibah,kemudian menceritakan kesulitan yang di hadapinya kepada manusia, baik kepada keluarga,atau teman-teman. Itu bukan solusi malahan bisa mendatangkan kemusyrikan. Lebih baik datangi tuhannya,ceritakan dan mengadulah tentang nasib atau musibah yang sedang di hadapi. Mintalah pertolongan kepadaNya untuk merubah nasib sampai musibah dan sial di ganti oleh Allah Swt dengan kebaikan atau kenikmatan.
Firman Allah SWT ( Q.S.13.Ar-Rad :11 )
lahu mu'aqqibaatum min bayni yadayhi wamin khalfihi yahfazhuunahu min amrillaahi inna allaaha laa yughayyiru maa biqawmin hattaayughayyiruu maa bi-anfusihim wa-idzaa araada allaahu biqawmin suu-an falaa maradda lahu wamaa lahum min duunihi min waalin
artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah
Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka merobah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan
terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan
sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Seperti
itulah perbedaan musibah dengan kemudharatan. Dan penting untuk
dipahami agar apabila datang musibah atau kemudharatan tidak langsung
berpasrah diri kemudian mengatakan sudah nasib. Ketahuilah bahwa sesuatu
yang datang dari Allah Swt tidak ada yang sia-sia,namun ada rahaisa
Allah Swt yang manusia harus mencari tahu.itulah gunanya mengintropeksi
diri atau muhasabah.


